<![endif]--><!--[if gte mso 9]>
1. PERANGKAT UNTUK MENGAJAR SECARA EFEKTIF
Mengajar (teaching) dapat membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar.
Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekat perencanaan atau perancangan (disain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang mungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian pelaksanaan oleh guru dan siswa atas dasar hubungan timbal-balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Interaksi Psikologis atau hubungan Kejiwaan secara timbal balik antara guru dan siswa ini merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
Proses belajar terjadi jika anak merespon stimulus (rangsangan) yang diberikan guru, selain itu untuk meraih pembelajaran yang efektif peserta didik juga dapat dibimbing oleh Guru dari pengetahuan sebelumnya yang mereka miliki yang tersimpan dalam ingatan dan pemikiran mereka (Kognitif) dengan menggunakan teori dan metode pembelajaran dengan tepat.
A . Pengertian Pendidikan Dan Pengajaran
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hakikat merupakan inti sari atau dasar kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seseorang secara bertahap dari tidak bisa menjadi bisa untuk melakukan suatu hal.
Pemahaman Theodore Brameld (1999), Memberi kesimpulan bahwa: pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang.
dalam UU Sisdiknas (2003:1), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
pandangan Gagne (1977), belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu.
menurut paham empiris, pengajaran merupakan kata benda dari kata mengajar yang artinya menimbulkan belajar dan itu terjemahan dari teaching atau diartikan juga instruction. Instruction adalah seperangkat peristiwa (event) yang mempengaruhi pembelajar sedemikian rupa sehingga pembelajar itu memperoleh kemudahan.
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya.
Jadi dapat dikatakan Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. teori belajar adalah konsep-konsep dan prinsip-prinsip belajar yang bersifat teoritis dan telah teruji kebenarannya melalui eksperimen. Teori belajar itu berasal dari teori psikologi dan terutama menyangkut masalah situasi belajar.
Sebagai salah satu cabang ilmu deskriptif, maka teori belajar berfungsi menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana proses belajar terjadi pada si belajar. Karena para pakar psikologi mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda dalam menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana belajar itu terjadi, maka menimbulkan beberapa teori belajar seperti teori behavioristik, kognitif, humanistik, sibernetik dan sebagainya.
Teori pembelajaran akan menjelaskan bagaimana menimbulkan pengalaman belajar dan bagaimana pula menilai dan memperbaiki metode dan teknik yang tepat.
C. Sistem Pembelajaran
Pembelajaran dapat ditafsirkan sebagai penyampaian isi pelajaran ke dalam otak peserta didik dengan cara tertentu dan mereka akan melacak kembali informasi yang telah diterima pada waktu menghadapi ujian.
Tujuan sistem adalah menghasilkan belajar atau memberikan sarana penting untuk mencapai tujuan pembelajaran. Komponen-komponen itu adalah pendidik, peserta didik, materi pembelajaran, dan lingkungan belajar. Semua komponen itu saling berinteraksi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pendekatan berfungsi mendeskripsikan hakikat apa yang akan dilakukan dalam memecahkan suatu masalah.
Pendekatan dapat berwujud cara pandang, filsafat atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya. Restriction terumuskan dalam tujuan (objectives), standar perilaku yang diharapkan (performance standard) juga kemungkinan hambatan dalam mencapai tujuan (constraint). Berdasarkan kepada tujuan sistem, selanjutnya dapat dirumuskan masukan (input), yakni apa yang ingin dicapai sesuai tujuan. Masukan tersebut diproses sehingga menghasilkan keluaran (output) tertentu. Hasil evaluasi terhadap output dijadikan dasar umpan balik (feed back) untuk melakukan perbaikan atau revisi, baik terhadap proses maupun terhadap input. Atas <a href="http://mytugaskampus.blogspot.com">dasar inilah seluruh komponen sistem berhubungan dan berinteraksi.</a>
Johnson, Kast dan Rozenzweig (1973) mengemukakan:
bahwa pendekatan sistem adalah cara berpikir untuk mengatur tugas, melalui suatu kerangka yang melukiskan faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal sehingga merupakan suatu keseluruhan secara terpadu. Atau, pendekatan sistem juga merupakan cara berpikir, sebuah metode atau teknik analisis dan suatu jenis manajerial.
Restriction terumuskan dalam tujuan (objectives), standar perilaku yang diharapkan (performance standard) juga kemungkinan hambatan dalam mencapai tujuan (constraint).
Tujuan (objectives)
Standar perilaku yang diharapkan (performance standard)Kemungkinan hambatan dalam mencapai tujuan (constraint)
Dirumuskan: Objebtif = ps/c+ fc (evaluasi)Objekti = Tujuan
Perfomen standar = Prilaku yang Diharapkan
Constrain = Hambatan dalam mencapai Tujuan
Berdasarkan kepada tujuan sistem dapat dirumuskan, selanjutnya dapat dirumuskan masukan (input), yakni apa yang ingin dicapai sesuai tujuan.
Masukan tersebut diproses sehingga menghasilkan keluaran (output) tertentu. Hasil evaluasi terhadap output dijadikan dasar umpan balik (feed back) untuk melakukan perbaikan atau revisi, baik terhadap proses maupun terhadap input. Atas dasar inilah seluruh komponen sistem berhubungan dan berinteraksi.
1.
D. Dalam proses belajar pasti terdapat komponen-komponen yang mendukung proses pembelajaran. Antara lain adalah :
URU
E. Prinsip-prinsip Pembelajaran
Prinsip pembelajaran terdapat dari berbagai sumber, antara lain adalah :
1. Prinsip pembelajaran bersumber dari teori behavioristik
2. Prinsip pembelajaran bersumber dari teori kognitif
3. Prinsip pembelajaran dari teori humanisme
4. Prinsip pembelajaran dalam rangka pencapaian ranah tujuan
5. Prinsip pembelajaran konstruktivisme
6. Prinsip pembelajaran bersumber dari azas mengajaran
2. PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN BAHASA
A. Perkembangan Kognitif Menurut Pandangan Piaget
. Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggungjawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka: asimilasi dan akomodasi.
1. Asimilasi tedadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru kedalam pengetahuan yang sudah ada. Yakni, dalam asimilasi, anak mengasimilasikan lingkungan ke dalam suatu skema.
2. Akonodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru. Yakni, anak menyesuaikan skema mereka dengan lingkungannya.
. Tahapan Piaget itu adalah:
1. Tahap sensorimotor
Tahap ini, yang berlangsung sejak kelahiran sampai sekitar usia dua tahun, adalah tahap Piagetian pertama.
2. Tahap pra-operosional
Tahap ini adalah tahap Piagetian kedua. Tahap ini berlangsung kurang lebih mulai dari usia dua tahun sampai tujuh tahun ini adalah tahap pemikiran yang lebih simbolis ketimbang pada tahap sensorimotor tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional Namun, tahap ini lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis.
3. Tahap Operasional Konkret
Ini adalah tahap perkembangan kognitif piagetian ketiga, dimulai dari sekitar umur tujuh tahun sampai sekitar sebelas tahun. Pemikiran operasional konkret mencakup penggunaan operasi. penalaran logika menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya dalam situasi konkret.
4. Tahap Operasional Formal
Tahap ini yang muncul pada usia tujuh sampai lima belas tahun, adalah tahap keempat menurut Piaget dan tahap kognitif terakhir.
B. Perkembangan Kognitif Menurut Pandangan Bruner
Bruner memiliki pandangan mengenai proses belajar yaitu langkah-langkah bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif.
a) Konsep
Jerome Bruner dalam menyusun teori perkembangan kognitif memperhitungkan enam hal, yaitu sebagai berikut:
1. Perkembangan intelektual ditandai oleh meningkatnya variansi respon terhadap stimulus.
2. Pertumbuhan tergantung pada perkembangan intelektual dan sistem pengolahan informasi yang dapat menggambarkan realita.
3. Perkembangan intelektual memerlukan peningkatan kecakapan untuk mengatakan pada dirinya sendiri dan orang lain, melalui kata-kata atau simbol, mengenai apa yang telah dikerjakan dan apa yang dikerjakannya.
4. Interaksi antara guru dengan siswa adalah penting bagi perkembangan kognitif.
5. Bahasa menjadi perkembangan kognitif. Setiap individu belajar menggunakan bahasa untuk memediasi peristiwa yang terjadi di dunia.
6. Pertumbuhan kognitif ditandai oleh semakin meningkatnya kemampuan menyelesaikan berbagai alternatif secara simultan, melakukan berbagai kegiatan secara bersamaan, dan mengalokasikan perhatian secara runtut pada berbagai situasi tertentu.
b) Tahap-Tahap Perkembangan
Bruner memahami karakteristik perkembangan kognitif tidak didasarkan pada usia tertentu, namun berdasarkan pengamatannya terhadap perilaku anak. Adapun tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Bruner, yaitu:
1. Tahap enaktif (0-2 tahun)
Pada tahap ini, anak memahami lingkungannya.
2. Tahap ikonik (2-4 tahun)
Pada tahap ini, informasi dibawa anak melalui imageri. Anak menjadi tahanan atas dunia perseptualnya. Anak dipengaruhi oleh cahaya yang tajam, gangguan suara, dan gerakan.
3. Tahap simboik (5-7 tahun)
Pada tahap ini, tindakan tanpa pemikiran terlebih dahulu dan pemahaman perseptual sudah berkembang. Bahasa, logika, matematika memegang peranan penting.
c) Implikasi dalam Pembelajaran
Implikasi tentang perkembangan kognitif menurut Bruner dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1. Anak memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang dewasa. Guru perlu memperlihatkan fenomena atau masalah kepada anak.
2. Anak, terutama pada pendidikan anak usia dini dana anak SD kelas rendah, akan belajar dengan baik apabila mereka memanipulasi objek yang dipelajari, misalnya dengan melihat, merasakan, mencium, dan sebagainya.
3. Pengalaman baru yang berinteraksi dengan struktur kognitif dapat menarik minat dan mengembangkan pemahaman anak. Oleh karena itu, pengalaman baru yang dipelajari anak harus sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki anak.
C. Perkembangan Kognitif Menurut Pandangan Vygotsky
Tiga konsep yang dikembangkan dalam teori vygotsky (Tappan,1998): (1) keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila di analisis dan pahami apabila dianalisis dan di interpretasikan secara developmental; (2) kemampuan kognitif yang di mediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untukmembantu dan menstraformasi aktivitas mental; dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi social dan dipengaruhi oleh latarbelakag sosiokultural.
Chomsky sudah menginspirasi banyak peneliti, para ahli psikolinguistik khususny, untuk mempelajari perkembangan bahasa anak-anak secara lebih mendetail. Berikuti ini beberapa tahap perkembangan bahasa secara universal:
1. Bahasa Awal
Tahap awal perkembangan bahasa dimulai sejak lahir.
2. Tahap pralinguistik
Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi ujaran dalam bentuk ocehan yang mempunyai fungsi komunikatif, sebagai reaksi terhadap orang lain yang mencari kontak verbal dengan anak tersebut atau sebaliknya (Monks, 1989:137)
3. Pengucapan satu-kata
Pada usia sekitar satu tahun anak mulai memproduksi kata tunggal untuk mengekspresikan seluruh kalimat.
4. Pengucapan dua-kata
Pada usia 1-2 tahun seorang anak sudah mulai mengucapkan dua kata secara bersamaan dan bahasa mereka menunjukan struktur tertentu.
5. Pengembangan gramatika
Diusia dua sampai tiga tahun anak mulai meletekan tiga atau lebih kata secara bersamaan.
6. Mendekati gramatika orang dewasa
Anak pada usia 5-9 tahun sudah menguasai perkembangan bahasa yang cukup kompleks, namun belum mampu menyusun kalimat pasif yang kompleks.
7. Tahap kompetensi lengkap
Pada usia 11-dewasa pembendaharaan kata semakin meningkat, sehingga kecapakan berkomunikasi semakin baik dan fasih.
Kemampuan Berbahasa dan Berpikir
Berpikir merupakan rangkaian proses kognisi yang bersifat pribadi yang berlangsung selama terjadinya stimulus sampai dengan munculnya respons (Morgan, 1989:228)
Dalam aktivitas berpikir di dalamnya melibatkan bahasa. Berpikir merupakan percakapan dalam hati inner speech (Morgan, 1989:231). Bahasa merupakan alat untuk berpikir dan berpikir mengekspresikan hasil pemikiran tersebut.
Karakteristik Perkembangan Bahasa
Karakteristik perkembangan bahasa tidak jauh dari apa yang telah dijelaskan diatas, sehingga kita menengok kembali pada pembahasan tersebut.
Implikasi Dalam Pembelajaran
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, diantaranya adalah:
a. Mengupayakan lingkungan yang dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perkembangan bahasa secara optimal.
b. Pengenalan sejak dini terhadap lingkungan yang memiliki variasi kemampuan bahasa pada anak sangat diperlukan untuk mengacu perkembangan bahasanya.
c. Mengembangkan strategi untuk mempermudah penguasaan bahasa, antara lain: cara untuk memudahkan mengingat, meniru, mengalami langsung, bermain.
<b>
3 Privasi Idividualisme
1. Integritas
Para ahli mendefinisikan dan merumuskan istilah intelegensi secara beragam, namun sebagian besarnya sepakat bahwa definisi dan rumusan istilah intelegensi memiliki sejumlah kualitas tertentu sebagai berikut :
• Bersifat Adaptif, artinya dapat digunakan secara fleksibel untuk merespons berbagai situasi dan masalah yang dihadapi.
• Berkaitan dengan kemampuan belajar, orang yang inteligen di bidang tertentu dapat mempelajari informasi-informasi dan perilaku-perilaku baru dalam bidang tersebut secara lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan orang yang kurang inteligen.
• Istilah intelegensi juga merujuk pada penggunaan pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki untuk menganalisis dan memahami situasi-situasi baru secara efektif.
• Istilah Inteligensi melibatkan interaksi dan koordinasi yang kompleks dari berbagai proses mental.
• Istilah inteligensi terkait dengan budaya tertentu (culture-specific). Perilaku yang dianggap inteligen dalam suatu budaya tertentu tidak selalu dianggap perilaku yang inteligen dalam budaya lain.
Dalam pembahasan intelegensi terdapat 4 aspek berikut :
a) Tes Inteligensi Individual
Robert. J. Sterenberg mengingat saat dia kecil dia sangat takut mengikutites IQ. Bahkan sebagai orang dewasa, Sterenberg merasa malu jika ingat saat dia berada di grade enam dan mengikuti tes IQ bersama pelajar dari grade lima. Sternberg akhirnya berhasil mengatasi ketakutannya terhadap tes IQ.
Tes Binet
Pada 1904 Menteri Pendidikan Perancis meminta psikolog Alfred Binet untuk menyusun metode guna mengidentifikasi anak-anak yang tidak mampu belajar di sekolah. Binet dan mahasiswanya, Theophile Simon, menyusun tes intelegensi untuk memenuhi permintaan ini. Tes itu disebut skala 1905. Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan, mulai dari kemampuan untuk menyentuh telinga hingga kemampuan untuk menggambar desain berdasarkan ingatan dan mendefinisikan konsep abstrak. Tak lama kemudian, pada 1912 William Stern menciptakan konsep intelligence qoutient (IQ), yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age – CA), dikalikan 100. Jadi rumusnya, IQ = MA/CA X 100.
Distribusi Normal
Distribusi normal adalah simetris, dengan mayoritas skor berada pada tengah-tengah rentang skor yang mungkin muncul dan hanya ada sedikit skor yang berada mendekati ujung dari rentang itu.
Skala Wechsler
Tes lainnya yang banyak dipakai untuk menilai intelegensi murid dinamakan skala wechsler yang dikembangkan oleh David Wechsler. Tes ini mencakup Wechsler Preschool And Primary Scale Of Intelligence-Revised (WPPSI-R) untuk anak dan remaja dari usia 6 hingga 16 tahun; dan Wechsler Adult Intelligence Scale- Revised (WAIS-R). Selain menunjukan IQ keseluruhan, skala Wechsler juga menunjukan IQ verbal dan IQ kinerja.
b) Tes Individual Versus Tes Kelompok
Tes inteligensi seperti stanford binet dan wechsler dilakukan berdasarkan tes individual. Seorang psikolog memahami penilaian inteligensi individual sebagai interaksi antara pemeriksa dan murid.
c) Teori Multiple Intelligences
Binet dan Stern memfok uskan pada konsep inteligensi umum, yang oleh Stern dinamakan IQ. Wechsler percaya bahwa adalah mungkin dan perlu untuk mendeskripsikan baik itu intelegensi umum maupun inteligensi verbal spesifik dan inteligensi kinerja seseorang. Menurut teori inteligensi triarkis dari Robert J. Stenberg (1986, 2000), inteligensi muncul dalam bentuk analitis, kreatif, dan praktis. Inteligensi analitis adalah kemampuan untuk menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingkan, dan mempertentangkan. Inteligensi kreatif adalah kemampuan untuk mencipta, mendesain, menciptakan, menemukan, dan mengimajinasikan. Inteligensi praktis focus pada kemampuan untuk menggunakan, mengaplikasikan, mengimplementasikan, dan mempraktikkan.
Delapan kerangka pikiran Gardner antara lain:
•Keahlian verbal
•Keahlian matematika
•Keahlian spasial
•Keahlian tubuh-kinestetik
•Keahlian music
•Keahlian intrapersonal
•Keahlian interpersonal
•Keahlian naturalis
Kontroversi dan Isu dalam Inteligensi
Isu sifat-asuh, sifat adalah warisan biologis anak, sedangkan asuhan adalah pengalaman lingkungan. Pendukung “sifat” mengatakan bahwa pengaruh terpenting pada perkembangan anak adalah warisan biologis. Pendukung “asuhan” mengatakan bahwa pengalaman lingkunganlah yang paling penting pengaruhnya. Dewasa ini sebagian besar pakar sepakat bahwa lingkungan juga memainkan peran penting (Ceci dkk., 1997; Okagaki, 2000; Sternberg & Grigorenko, 2001; Williams & Sternberg, 2002). Ini berarti bahwa memperkaya lingkungan anak dapat meningkatkan inteligensi mereka. Ini juga berarti bahwa memperkaya lingkungan anak bias meningkatkan prestasi sekolah dan penguasaan keahlian yang dibutuhkan untuk
Etnis dan Kultur
Perbandingan etnis. Di AS, skor rata-rata anak dari keluarga Afrika-Amerika dan Latin berada di bawah anak keluarga kulit putih nonLatin berdasarkan tes inteligensi standar. Perbedaan didasari oleh lingkungan (brooks-Gunn, Klebanov, & Duncan, 1996; Ogbu & Stern, 2001; Onwuegbuzie & Daley, 2001).
Bias cultural dan tes yang fair secara cultural. Banyak tes inteligensi awal mengandung bias cultural, lebih memihak pada anak-anak perkotaan ketimbang pedesaan, anak dari keluarga kelas menengah ketimbang keluarga miskin, lebih memihak kulit putih ketimbang anak minoritas (Miller-Jones, 1989). Beberapa item tes juga sangat jelas mengandung bias cultural.
Tes yang fair secara cultural adalah tes yang diusahakan bebas dari bias cultural. Ada dua jenis tes culture-fair. Yang pertama berisi item-item yang diyakini dipahami oleh anak-anak dari semua kelompok etnis dan sosioekonomi, atau item yang setidaknya dipahami oleh anak-anak yang mengkuti tes. Tipe tes culture-fair kedua tidak menggunakan item verbal.
Pengelompokan dan Penelusuran Kemampuan
Pengelompokan kemampuan antar kelas. Tipe pengelompokan ini mengelompokkan murid berdasarkan kemampuan atau prestasi mereka. Penelusuran diyakini bisa mengelompokkan rentang keahlian dalam kelompok murid, sehingga memudahkan guru untuk mengajar mereka. Program non-grade (lintas usia). Variasi pengelompokan kemampuan antarkelas dimana murid dikelompokkan berdasarkan kemampuan mereka dalam subjek atau pelajaran tertentu, terlepas dari usia atau tingkat kelasnya. Joplin plan adalah program non-grade untuk pelajaran membaca. Dalam Joplin Plan, murid kelas dua, tiga, dan empat disatukan karena tungkat kemampuan membaca mereka sama. Pengelompokan Kemampuan dalam kelas. Pengelompokan ini menempatkan murid dalam dua atau tiga kelompok di dalam kelas dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan murid. Pengelompokan kemampuan dalam kelas ini biasanya dilakukan di sekolah dasar di mana guru mengelompokkan muridnya berdasarkan kemampuan membaca mereka.
.2 Gaya Belajar dan Gaya Berpikir Anak
Intelegensi adalah kemampuan, namun gaya berpikir bukanlah kemampuan, tetapi cara yang dipilih seseorang untuk mengguanakan kemampuannya (Drysdale, Ross, & Schuylts, 2001; Sternberg, 1997).
Dikotomi Gaya Belajar dan Berpikir
Dua dikotomi gaya yang paling banyak didiskusikan dalam wacana tentang pembelajaran adalah gaya impulsif/reflektif dan mendalam/dangkal.
Gaya impulsif/reflektif juga disebut sebagai tempo konseptual, yakni murid cenderung bertindak cepat dan impulsif atau menggunakan lebih banyak waktu untuk merespons dan merenungkan akurasi dari suatu jawaban (Kagan, 1965). Murid yang impulsif seringkali lebih banyak melakukan kesalahan ketimbang murid yang reflektif. Dibandingkan murid yang impulsif, murid yang reflektif lebih mungkin melakukan tugas berikut :
• Mengingat informasi yang terstruktur
• Membaca dengan memahami dan menginterpretasi teks
• Memecahkan problem dan membuat keputusan
3 Kepribadian dan Temperamen
Sangat penting untuk menyadari adanya variasi individual dalam kognisi, dan juga penting untuk memahami variasi individual dalam personalitas (kepribadian) dan temperamennya.
a) Kepribadian
Kepribadian atau personalitas adalah pemikiran, emosi, dan perilaku tertentu yang menjadi ciri dari seseorang dalam menghadapi dunianya. Lima faktor utama dalam kepribadian yaitu openness, conscientiousness, extraversion, agreableness, dan neuroticsm.
a. Openness (keterbukaan kepada pengalaman)
• Imajinatif atau praktis
• Tertarik pada variasi atau rutinitas
• Indenpenden atau mudah menyesuaikan diri
b. Conscientiousness (kepatuhan)
• Rapi atau tidak rapi
• Perhatian atau cereboh
• Disiplin atau impulsive
c. Extraversion
• Terbuka secara sosial atau menyendiri
• Suka bersenang atau bersedih
• Kasih sayang atau sebaliknya
d. Agreableness (kepekaan nurani)
• Berhati lembut atau kasar
• Percaya atau curiga
• Membantu atau tidak kooperatif
e. Neuroticism (stabilitas emosional)
• Tenang atau cemas
• Merasa aman atau tidak aman
• Puas pada diri atau mengasihani diri sendiri
b) Temperamen
Temperamen adalah gaya perilaku seseorang dan cara khasnya dalam memberi tanggapan atau respons. Klasifikasi yang paling terkenal adalah klasifikasi oleh Alexander Chess dan Stella Thomas ( Chess & Thomas, 1997; Thomas & Chess, 19991). Mereka percaya bahwa ada tiga tipe atau jenis tempramen:
•“Anak mudah” (easy child) biasanya memiliki mood positif, cepat membangun rutinitas, dan mudah beradaptasi dengan pengalaman baru.
•“Anak sulit” (difficult child) cenderung bereaksi negatif, cenderung agresif, kurang kontrol diri, dan lamban dalam menerima pengalaman baru.
•“Anak lamban bersikap hangat” (slow-to-warm-up child) biasanya beraktivitas lamban, agak negatif, menunjukan kelambanan dalam beradaptasi, dan intensitas mood yang rendah.
). Klasifikasi tempramen sekarang ini lebih difokuskan pada;
a. sikap dan pendekatan positif;
b. sikap negatif dan
c. usaha kontrol (pengaturan diri).
4. PENDEKATAN BEHAVIONISME DAN KOGNITIFISME
Yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
1.a Pengertian Belajar
Belajar adalah pengaruh yang relative permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berfikir yang diperoleh melalui pengalaman.
1. Pendekatan Untuk Pembelajaran
• Pendekatan kognitif social yang menekankan bagaimana factor perilaku, lingkungan dan orang(kognitif) saling berinteraksi memenuhi proses pembelajaran.
• Pendekatan kedua, pemprosesan informasi, menitikberatkan pada bagaimana anak memproses informasi melalui pehatian, ingatan, pemikiran, dan proses kognitif lainnya.
• Pendekatan ketiga, konstruktivitas kognitif, menekankan konstruksi kognitif terhadap pengetahuan dan pengalaman.
• Pendekatan keempat, konstriktivitas social, focus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman.
2. Pendekatan Behavioral dan Pembelajaran Pengondisian Klasik
Dari penjelasan tersebut, terdapat beberapa tahap eksperimen Antara lain:
. Dimana anjing, bila diberikan makanan (ICS) maka secara otomatis anjing akan mengeluarkan air liur.
. Jika sebuah bel dibunyikan, maka ia tidak merespon.
Sehingga dalam eksperimen ini anjung diberikan sebuah makanan setelah diberikan bunyi bel terlebih dahulu. Maka anjing akan mengeluarakan air liur akibat dari pemberian makanan.
. Setelah diberikan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel tanpa
3. Pengondisian Operan
Pengondisian Operan atau sering disebut dengan pengondisian instrumental adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulang.
3.a Hukum Efek Thorndike
Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan sebaliknya perilaku yang diikuti dengan hasil negative akan diperlemah.
3.b Generalisasi, diskriminasi, dam pelenyapan
Genaralisasi dalam pengondisian operan adalah memberi respon yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi adalah membedakan di antara stimuli atau kejadian lingkungan. Pelenyapan terjadi saat respon penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun.
4. Analisis Perilaku Terapan dalam PengondisianMeningkatkan perilaku yang diharapkan.
4.a Memilih penguat yang efektif
4.b Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu
4.c Memilih jadwal penguat terbaik
4.d Mempertimbangkan penggunaan perjanjian(contracting)
4.e Menggunakan penguatan negative secara efektif
5. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Jika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan, mereka harus menggunakan empat langkah berikut secara berturut-turut:
A. Menggunakan penguat diferensial
B. Menghentikan penguatan (pelenyapan)
C. Menghilangkan stimuli yang diinginkan
D. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)
Ada sejumlah problem yang berhubungan dengan penggunaan stimuli yang tidak menyenangkan (Hyman, 1997: Hyman & Snock, 1999):
• Jika anda menggunakan hukuman berat seperti membentak atau mengomeli dengan keras, maka anda akan menjadi contoh orang yang pemarah dan galak saat menghadapi situasi yang menekan.
• Hukuman bisa menimbulkan rasa takut, kemarahan, dan penghindar. Keprihatinan Skinner terbesar adalah sebagai berikut: Hukuman mengajarkan kita cara untuk menghindari sesuatu.
• Ketika murid dihukum, mereka mungkin akan marah dan cemas sehingga tidak bisa berkonsentrasi pada tugas mereka selama beberapa waktu setelah hukuman diberikan.
• Human akan mengajari murid apa yang boleh dilakukan, bukan apa yang seharusnya dilakukan. Jika anda membuat pertanyaan hukuman seperti “Jangan, itu salah,” jangan lupa beri juga dengan umpan balik seperti “Sebaliknya dilakukan ini saja”.
• Apa yang dimaksud sebagai hukuman dapat berubah menjadi penguat. Seorang murid mungkin belajar bahwa perilaku bukan hanya akan mendapat perhatian guru, tetapi juga membuatnya disegani diantara teman-teman sekelas.
6 Pendekatan Kognitif Sosial Untuk Pembelajaran Teori Kognitif Sosial Bandura
Teori kognitif social Bandura menyatakan bahwa factor social dan kognitif, dan juga factor perilaku, memainkan peranpenting dalam pembelajaran. Dia menyatakan bahwa ketika murid belajar, maka dapat merepresentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif. Bandura mengembangkan model determinidme rasiprokal yang terdiri dari tiga factor utama: perilaku, person/ kognitif, dan lingkungan. Factor person yang ditekankan Bandura belakangan ini adalah self-efficacy, keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif.
7. Pembelajaran Observasional
pembelajaran observasional, juga dinamakan imitasi atau modelling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
Studi boneka bobo klasik. Dalam percobaan boneka bobo, Bandura mengilustrasikan bagaimana pembelajaran observasional dapat terjadi bahkan dengan menyaksokan seorang model yang tidak diperkuat atau dihukum. Eksperimen tersebut juga menunjukkan perbedaan Antara pembelajaran dan kinerja. Sejak eksperimin awalnya, Bandura menitikberatkan pada proses tertentu yang ada dalam proses pembelajaran observasional. Proses ini antara lain atensi, retensi, produksi, dan motivasi.
5. PENGELOLAAN KELAS
Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator. Sebagai tenaga profesional, seorang guru dituntut mampu mengelola kelas yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Menurut Amatembun (dalam Supriyanto, 1991:22) “Pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan dan mempertahankan serta mengembang tumbuhkan motivasi belajar untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan”. Sedangkan menurut Usman (2003:97) “Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif”.
A. PENERAPAN SUATU SISTEM DALAM MENGELOLA KELAS
1. Teknik mendekati. Bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang biasanya efektif yaitu teknik mendekatinya. Kehadiran guru bisa membuatnya takut, dan karena itu dapat menghentikannya dari perbuatan yang disruptif , tanpa perlu menegur andai kata siswa mulai menampakan kecenderungan berbuat nakal, memindahkan tempat duduknya ke meja guru dapat berefek preventif.
2. Teknik memberikan isyarat. Apabila siswa berbuat penakalan kecil, guru dapat memberikan isyarat bahwa ia sedang diawasi isyarat tersebut dapat berupa petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan.
3. Teknik mengadakan humor. Jika insiden itu kecil, setidaknya guru memandang efek saja, dengan melihatnya secara humoristis, guru akan dapat mempertahankan suasana baik, serta memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa ia tahu tentang apa yang akan terjadi.
4. Teknik tidak mengacuhkan. Untuk menerapkan cara ini guru harus lues dan tidak perlu menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus tertentu, tidak mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa untuk di perhatikan.
5. Teknik yang keras. Guru dapat menggunakan teknik-teknik yang keras apabila ia di hadapkan pada perilaku disruptif yang jelas tidak terkendalikan. Contohnya mengeluarkannya dalam kelas.
6. Teknik mengadakan diskusi secara terbuka. Bila kenakalan di kelas mulai bertambah, sering guru menjadi heran. ia lalu menilai kembali tindakan dan pengajarannya. untuk menjelaskan perbuatan-perbuaatan siswa-siswanya. Dan menciptakan suasana belajar yang sedikit lebih sesuai daripada sebelumnya.
7. Teknik memberikan penjelasan tentang prosedur. Kadang-kadang masalah kedisiplinan ada hubungannya yang langsung dengan ketidakmampuan siswa melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Kesulitan ini terjadi apbila guru berasumsi bahwa siswa memiliki keterampilan, padahal sebenarnya tidak. masalah yang hampir sama yaitu masalah-masalah perilaku yang lazimnya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak biasa dikelas.
8. Mengadakan analisis. Kadang-kadang terjadi hampir terus menerus berbuat kenakalan, guru dapat mengetahui masalah yang akan di hadapinya dan mengurangi keresahan siswanya.
9. Mengadakan perubahan kegiatan. Apabila gangguan dikelas meningkat jumlahnya, tindakan yang harus segera di ambil yaitu mengubah apa yang sedang anda lakukan. Jika biasanya diskusi, maka ubahlah dengan memberikan ringkasan-ringkasan untuk dibaca atau menyuruh mereka membaca buku-buku pilihan mereka.
10. Teknik menghimbau. Kadang-kadang guru sering mengatakan, “harap tenang”. Ucapan tersebut adakalanya membawa hasil; siswa memperhatikannya. Tetapi apabila himbauan sering digunakan mereka cenderung untuk tidak menggubrisnya.
Menurut Edmund dan Edmmer (1981) dalam Djiwandono (2006:264) pengelolaan kelas di definisikan sebagai berikut:
1. Tingkah laku guru yang dapat menghasilkan prestasi siswa yang tinggi karena keterlibatan belajar siswa secara aktif di kelas.
2. Tingkah laku siswa yang tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lainnya.
3. Menggunakan waktu belajar yang efesien.
Upaya-upaya dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas, dengan berpedoman pada tiga pilar utama bagi guru dan dosen (pendidik) yang professional dalam melaksanakan tugas pembelajaran dikelas adalah: (a) menguasai materi pembelajaran, (b) professional untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa (peserta didik), dan (c) berkepribadian matang.
Kemampuan didaktik guru didepan kelas sangat dibutuhkan, adapun dasar-dasar ilmu mendidik (didaktik) dan penerapan dalam pembelajaran kelas, sebagai berikut:
1. Asas keterlibatan belajar siswa secara aktif di kelas
Pada hakekatnya belajar merupakan wujud keaktifan siswa terhadap proses pembelajaran di dalam kelas, disini menuntut dan menekan kepada seorang guru untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar dikelas. Siswa yang aktif dalam pembelajaran memiliki keseriusan dan perhatian yang tinggi pada pencapaian tujuan pembelajaran. Sedangkan aktif dapat berwujud, seperti: mendengarkan, menulis, membuat sesuatu, mendiskusikan. Untuk memfungsikan keaktifan ini sangat bergantung dengan keterlibatan intelektual-emosional. Jadi, yang dimaksudkan dengan siswa belajar aktif dikelas adalah dengan melibatkan keaktifan mental (intelektual-emosional) dan fisiknya.
2. Asas memberikan motivasi
Tugas seorang guru disini dituntut sebagai motivator untuk mendorong, menggerakkan supaya siswa melakukan atau tidak melakukan sesuatu untuk tercapainya tujuan pembelajaran dikelas. Petunjuk praktis yang perlu dilakukan oleh guru (pendidik) dalam membangkitkan motivasi siswa (peserta didik) belajar dikelas, sebagai berikut:
a. Usahakan tujuan instruksional pelajaran jelas dan menarik, karena semakin jelas tujuan pembelajaran semakin termotivasi siswa untuk belajar.
b. Guru harus antusias dalam mempelajari dan menerapkan secara optimal tugas sebagai guru.
c. Ciptakan suasana yang kondusif, sejuk dan menyenangkan.
d. Berikan penghargaan dan pujian daripada memberikan hukuman dan mencela
e. Berikan pekerjaan rumah (PR) yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
f. Berikan kejelasan dari setiap evaluasi kerja siswa.
g. Hargailah hasil pembelajaran siswa.
C. Dimensi-dimensi Pengelolaan Kelas
1. Dimensi Pencegahan
Dimensi pencegahan (preventif) dapat merupakan tindakan guru dalam mengatur siswa dan peralatan atau format belajar mengajar yang tepat. Dalam rangka pembinaan pengelolaan disekolah kita dapat menempuh berbagai usaha antara lain:
a. Meningkatkan kesadaran diri dari guru
b. Meningkatkan kesadaran siswa
c. Sikap tulus dari guru
d. Menemukan dan pengenalan alternatif pengelolaan
e. Membuat kontrak sosial
2. Dimensi tindakan
Dimensi tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan guru bila terjadi masalah pengelolaan. Adapun hal yang bisa dijadikan pertimbangan bagi guru atau dosen dalam melakukan tindakan adalah:
a. Lakukan tindakan dan bukan ceramah
b. Do not bargain
c. Gunakan “kontrol” kerja
d. Nyatakan peraturan dan konsekuensinya.
3. Dimensi penyembuhan
Dimensi penyembuhan dimaksudkan untuk membina kontrak sosial yang tidak jalan. Bentuk dari situasi ini seperti: siswa melanggar sejumlah peraturan sekolah, siswa menolak konsekuensi, siswa menolak sama sekali aturan khusus yang sudah dibuat, dan lain sebagainya. Adapun langkah-langkah penyembuhan dapat guru atau dosen lakukan sebagai berikut:
a. Membuat rencana
b. Menentukan waktu pertemuan
c. Pemecahan masalah/kontrak individual
d. Melakukan kegiatan tindak lanjut
D. Kondisi dan Situasi Belajar di Kelas
1. Kondisi Fisik
a. Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
• Jenis kegiatan (dalam kelas/di ruang praktikum)
• Jumlah siswa yang melakukan kegiatan
b. Pengaturan tempat duduk
• Berbaris
• Pengelompokan
• Setengah lingkaran
• Berbentuk lingkaran
• Individu
• Ruang kelas yang tidak normal
c. Ventilasi dan pengaturan cahaya
Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa antara lain jendela yang cukup besar agar cahaya matahari masuk dan udara sehat.
d. Pengaturan penyimpanan barang-barang
Penyimpanan barang hendaknya disimpan di tempat khusus yang mudah dicapai dan diatur sedemikian rupa sehingga barang-barang tersebut segera dapat digunakan.
E. Komponen-komponen Pengelolaan Kelas
Untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran, maka unsur-unsur pengelolaan kelas meliputi dua tindakan yaitu:
1. Tndakan Preventif
Preventif yaitu upaya sedini mungkin yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaran.
a. Tanggap/peka, yaitu kemampuan guru merespon terhadap prilaku atau aktifitas yang dianggap akan mengganggu pembelajaran.
b. Perhatian, selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun segala sesuatu yang muncul.
2. Tindakan Refresif
Tindakan refresif, kemampuan guru untuk mengatasi, mencari dan menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam lingkungan pembelajaran.
a. Modifikasi tingkah laku, yaitu bahwa tingkah laku dapat diamati
b. Pengelolaan kelompok, yaitu untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikutsertakan berbagai komponen atau unsur yang terkait.
c. Diagnosis, yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsur-unsur yang akan menjadi kekuatan bagi proses peningkatan pembelajaran.
d. Peran guru, yaitu mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap lingkungannya, membangun pemahaman siswa agar mengerti dan menyesuaikan tingkah lakunya dengan tata tertib kelas dan menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta tingkahlaku yang sesuai dengan aktivitas kelas.
6. PENILAIN KELAS
Ada satu kesalahan dalam pendidikan kita, selama ini masih banyak pendidikan yang hanya mengutamakan pendidikan brain based education. Artinya masih banyak pendidikan di negara ini yang hanya melihat berhasil-tidaknya suatu pendidikan dari nilai hasil belajar saja, tanpa melihat bagaimana emosional si anak, psikis si anak, dan ahlak si anak.
Untuk itu dalam sebuah sekolah perlu adanya seorang psikolog sekolah atau konselor yang bertujuan untuk mengevaluasi anak didik dari segi psikis, emosional, kepribadian, dan pergaulan sosialnya. Selain itu juga berfungsi untuk mengevaluasi dari segi program kurikulum dan keguruan. Maka kemudian dalam dunia psikologi pendidikan dikenal dengan yang namanya evaluasi psikologi pendidikan. Yang mana salah satu tujuannya hal tersebut. Yang akan kita bahas lebih mendalam dalam makalah ini.
Skinner, seperti yang dikutip Barlow dalam bukunya educational Psychology: The Teaching-Learning Process,berpendapat bahwa belajar adalah suau proses adaptasi atau penyesuaian tinkah laku yang berlangsung secara progresif (a process of progressive behavior adaptation). Berdasarkan eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforce).
Dalam Dictionary of Psychology, Chaplin memberikan batasan belajar dengan dua rumusan. Rumusan pertama berbunyi: …..acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience.Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua: ….process of acquiring responses as a result of special practice, belajar adalah proses memperoleh respon-respon ebagai akibat adanya latihan khusus.
Reber dalam kamusnya, Dictionary of Psychology
- Relatively permanent, yang secara umum menetap
- Respons Potentiality, kemampuan bereaksi
- Reinforce, penguatan
- Practise, praktik atau latihan
Evaluasi Prestasi Belajar / Penilaian Kelas
Istilah Evaluasi atau penilaian adalah sebagai terjemahan dari istilah asing “Evaluation”. Dan sebagai panduan, menurut Benyamin S. Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) dikemukakan bahwa: Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada-tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik.
Aktivitas belajar perlu diadakan evaluasi. Hal ini penting karena dengan evaluasi kita dapat mengetahui apakah tujuan belajar yang telah ditetapkan dapat tercapai atau tidak.
Adapun aspek-aspek kepribadian yang harus diperhatikan merupakan objek di dalam pelaksanaan evaluasi tersebut, menurut Nasrun Harahap, adalah sebagai berikut:
1. Aspek-aspek tentang berpikir, meliputi :inteligensi, ingatan, cara menginterpretasi data, pokok-pokok pengajaran, dan pemikiran yang logis.
2. Dari segi perasaan sosialnya, meliputi: kerjasama dengan kawan sekelasnya, carabergaul, cara pemecahan masalah, serta nilai-nilaisosial.
3. Dari kekayaan social dan kewarganegaraan, meliputi: pandangan hidup atau pendapatnya terhadap masalah-masalah social, politik, dan ekonomi.
Aspek-aspek tersebut masih dapat dirinci ke dalam hal-hal yang lebih khusus yang disesuaikan dengan keperluan atau tujuan penilain.
Macam-macam Evaluasi Prestasi Belajar / Penilaian Kelas
1. Evaluasi Formatif
- Fungsi: untuk memperbaiki proses belajar mengajar ke arah yang lebih baik , atau memperbaiki program satuan pelajaran yang telah digunakan.
- Tujuan: untuk mengetahui hingga di mana penguasaan murid tentang bahan yang telah diajarkan dalam suatu program satuan pelajaran.
- Aspek-aspek yang dinilai: yang berkenaan dengan hasil pelajaran murid, meliputi: pengetahuan, keterampilan, sikap dan penguasaan
2. Evaluasi Somatif
- Fungsi: untuk menentukan angka/nilai murid setelah mengikuti program pengajaran dalam satu semester atau akhir dari suatu program bahan pengajaran dari suatu unit pendidikan.
- Tujuan: untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh murid setelah menyelesaikan program bahan pengajaran dalam satu semester atau akhir.
- Aspek-aspek yang dinilai: kemajuan belajar
3. Evaluasi Placement (Penempatan)
- Fungsi: untuk mengetahui keadaan anak termasuk keadaan seluruh pribadinya, agar anak tersbut dapat ditempatkan pada posisinya yang tepat.
- Tujuan: untuk menempatkan anak didik pada kedudukan yang sebenarnya, berdasarkan bakat, minat, kemampuan, kesangupan serta keadaan-keadaan yang lainnya, sehingga anak tidak mengalami hambatan dalam mengikuti setiap program/bahan yang disajikan guru.
- Aspek-aspek yang dinilai meliputi : keadaan fisik. Psikis, bakat, kemampuan/pengetahuan, keterampilan, sikap dan lain-lain aspek yang dianggap perlu bagi kepentingan pendidikan anak selanjutnya.
Evaluasi / Penilaian Diagnostik
- Fungsi: untuk mengetahui masalah-masalah apa yang diderita atau yang mengganggu anak didik, sehingga ia mengalami kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti program tertentu.
- Tujuan: untuk mengatsi/membantu pemecaham kesulitan atau hambatan yang dialami anak didik waktu mengikuti kegiatan belajar-mengajar pada suatu studi atau keseluruhan bidang pengajaran.
- Aspek-aspek yang dinilai: hasil belajar, latar belekang kehidupan anak, keadaan keluarga dan lingkungan.
Ranah Evaluasi Prestasi Belajar
A. Evaluasi Prestasi Kognitif
B. Evaluasi / Penilaian Prestasi Afektif
C. Evaluasi / Penilaian Kelas Prestasi Psikomotor
<![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml></xml><br />
<blockquote>
<blockquote>